Kolakanews – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) merupakan ancaman lingkungan yang dapat berdampak luas terhadap ekosistem, kesehatan dan keselamatan masyarakat, serta aktivitas sosial dan ekonomi. Risiko tersebut semakin perlu diantisipasi pada musim kemarau, ketika kondisi lahan dan vegetasi yang mengering dapat memicu dan mempercepat meluasnya kebakaran.

Penanganan risiko Karhutla membutuhkan upaya terpadu dan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga dunia usaha.
Sebagai bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID), PT Vale Indonesia turut mengambil peran aktif melalui edukasi, mitigasi, pemantauan, koordinasi, dan penguatan kesiapsiagaan yang dilaksanakan secara paralel di seluruh wilayah konsesi dan Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH) perusahaan.
Salah satu upaya tersebut dilakukan PT Vale melalui Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa dengan menyelenggarakan Sosialisasi Penanganan dan Pencegahan Karhutla di Desa Totobo, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Selasa (1/9).
Dengan menghadirkan narasumber dari Kementerian Kehutanan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Kolaka. Sosialisasi juga melibatkan jajaran pemerintah kecamatan dan desa dari Kecamatan Pomalaa dan Kecamatan Baula yang wilayahnya berdekatan dengan area operasional perusahaan.
Kolaborasi lintas sektor tersebut ditujukan untuk memperkuat pemahaman bersama mengenai mitigasi, pencegahan, mekanisme pelaporan, koordinasi, serta penanganan awal kebakaran. Pelibatan pemerintah kecamatan dan desa diharapkan dapat memperluas edukasi kepada masyarakat hingga ke tingkat tapak, khususnya pada musim kemarau ketika risiko Karhutla meningkat.
Project Director IGP Pomalaa PT Vale Indonesia, Mohammad Rifai, mengatakan bahwa pencegahan Karhutla merupakan bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam menjalankan praktik pertambangan berkelanjutan serta melindungi masyarakat dan lingkungan di sekitar wilayah operasional.
“PT Vale memiliki kepedulian tinggi terhadap pencegahan dan penanganan Karhutla. Meski merupakan tanggung jawab lintas sektoral, kami mengambil peran aktif melalui mitigasi, penguatan kesiapsiagaan, dan koordinasi yang dijalankan secara paralel di seluruh wilayah konsesi dan PPKH perusahaan. Kolaborasi ini penting agar setiap potensi kebakaran dapat diantisipasi dan ditangani sedini mungkin,” katanya.
Sosialisasi di Kabupaten Kolaka merupakan bagian dari pendekatan PT Vale untuk mendukung sistem pencegahan dan penanganan Karhutla yang lebih terkoordinasi. Pendekatan tersebut mempertimbangkan karakteristik wilayah, kondisi cuaca, tutupan lahan, kedekatan dengan permukiman, aktivitas masyarakat, serta kesiapan penanganan keadaan darurat.
Peningkatan pemahaman pemerintah kecamatan dan desa menjadi salah satu aspek penting dalam upaya tersebut. Aparatur di tingkat lokal memiliki posisi strategis untuk menyampaikan informasi pencegahan kepada masyarakat, mengidentifikasi potensi risiko, serta membangun koordinasi awal apabila ditemukan titik api atau terjadi kebakaran.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang untuk menyelaraskan pemahaman dan pembagian peran para pihak.
Upaya pencegahan perlu dilakukan secara konsisten, mulai dari edukasi mengenai aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran hingga penguatan jalur komunikasi, pelaporan, dan respons darurat.
Berdasarkan catatan tim Emergency Response PT Vale, intensitas penanganan kebakaran di wilayah Kolaka mengalami peningkatan. Sepanjang Agustus 2026, tim pemadam kebakaran PT Vale telah melakukan hampir 30 kali penanganan kejadian di area hutan, lahan, dan permukiman warga.
Catatan tersebut menjadi salah satu dasar bagi perusahaan untuk terus memperkuat pencegahan, kesiapsiagaan, dan koordinasi lintas sektor. Di samping kesiapan menangani kejadian, edukasi dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting untuk meminimalkan risiko kebakaran, khususnya selama musim kemarau.
Dalam mendukung penanggulangan Karhutla di Kabupaten Kolaka, PT Vale terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait. Perusahaan juga menyiagakan personel terlatih serta armada pemadam kebakaran yang dapat dikerahkan sesuai kebutuhan melalui mekanisme koordinasi penanganan keadaan darurat.
Dukungan tersebut merupakan bentuk partisipasi PT Vale dalam memperkuat kapasitas penanganan Karhutla di daerah. Perusahaan siap mengambil bagian dalam langkah penanganan yang dikoordinasikan pemerintah dengan tetap memperhatikan kewenangan dan tanggung jawab masing-masing pihak.
Kendati kesiapan personel dan peralatan menjadi unsur penting dalam menghadapi ancaman Karhutla, PT Vale tetap menempatkan pencegahan sebagai prioritas. Hal ini dilakukan melalui penguatan sistem komunikasi, pemetaan potensi kerawanan, peningkatan kapasitas para pihak, pemantauan kondisi lapangan, serta evaluasi berkala terhadap efektivitas langkah mitigasi.
Dilaksanakan Paralel di Seluruh Wilayah Konsesi
Upaya pencegahan dan penanganan Karhutla tidak hanya dilakukan di wilayah IGP Pomalaa. PT Vale menjalankan mitigasi dan kesiapsiagaan secara paralel di seluruh wilayah konsesi dan PPKH perusahaan dengan menyesuaikan karakteristik, tingkat kerawanan, serta kebutuhan setiap wilayah operasional.
Dalam pelaksanaannya, PT Vale mengintegrasikan aspek lingkungan, keselamatan, operasional, dan pelibatan pemangku kepentingan. Pendekatan tersebut mencakup identifikasi dan pemetaan area rawan kebakaran, pemantauan kondisi lapangan, kesiapan personel dan sarana tanggap darurat, penguatan prosedur pelaporan dan respons awal, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat.
Perusahaan juga terus meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pencegahan Karhutla, terutama di wilayah yang berbatasan atau memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas masyarakat. Pendekatan kolaboratif diperlukan agar perlindungan kawasan hutan dan lahan berjalan seiring dengan perlindungan terhadap pekerja, masyarakat, aset, dan keberlanjutan kegiatan operasional.
PT Vale meyakini bahwa pengendalian Karhutla membutuhkan sinergi berkelanjutan. Pemerintah berperan dalam kebijakan dan koordinasi penanggulangan, masyarakat menjadi bagian penting dalam pencegahan dan pelaporan awal, sementara perusahaan dapat berkontribusi melalui sumber daya, kompetensi, edukasi, pemantauan, dan kesiapan tanggap darurat.
Melalui sosialisasi di Kabupaten Kolaka dan berbagai upaya di seluruh wilayah konsesi dan PPKH, PT Vale berharap dapat memperkuat budaya pencegahan, meningkatkan kesiapsiagaan para pemangku kepentingan, serta meminimalkan risiko Karhutla.
Langkah tersebut menjadi bagian dari penerapan praktik pertambangan yang bertanggung jawab sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang aman, tangguh, dan berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.(**)

















